Akibat Mengkritik

TIDAK PERNAH ADA PATUNG YANG DIDIRIKAN UNTUK MENGHORMATI SEORANG KRITIKUS!

S174411 Dalam A Closer Walk, Catherine Mashall menulis: "Suatu pagi minggu lalu Ia memberi saya sebuah tugas: untuk satu hari saya harus ‘berpuasa’ mengkritik. Saya tidak boleh mengkritik siapapun tentang apapun.

"Selama separuh pertama hari itu, saya hanya merasakan suatu kekosongan, hampir seolah-olah saya dihapuskan sebagai seorang pribadi. Ini sangat terasa khususnya pada saat makan siang… Saya mendengarkan orang lain dan diam saja… Dalam keluarga kami yang senang berbicara tampaknya tak seorangpun memperhatikannya. Termangu-mangu, saya menyadari bahwa komentar-komentar saya tidak dirindukan. Pemerintah federal, sistem hukum, dan lembaga gereja jelas baik-baik saja tanpa pengamatan tajam saya. Namun saya masih belum melihat apa yang dihasilkan puasa mengkritik ini – sampai setelah sore hari.

"Sore itu, suatu visi spesifik dan positif untuk kehidupan ini turun ke dalam pikiran saya dengan tanda Tuhan yang tak mungkin salah di atasnya: SUKACITA! Ide-ide mulai mengalir dalam suatu cara yang tidak saya alami selama bertahun-tahun. Kini jelas bahwa Tuhan ingin saya melihat. Sifat kritis saya tidak memperbaiki satupun dari banyak hal yang saya anggap salah. Yang dilakukan sifat mengkritik saya adalah MELUMPUHKAN KREATIFITAS SAYA SENDIRI."

(Seperti yang tertulis dalam Kisah Rohani Pembangkit semangat untuk Pemimpin, hal 28-29)

Satu pemikiran pada “Akibat Mengkritik

  1. Eirene!!!Peace and wealth !
    Menurut saya ( semua orang bebas mengemukakan pendapat bukan? Dan “tidak dilarang” berbeda).
    Kritik ada 2 macam:
    Kritik konstruktif dan kritik destruktif.
    Kritik yang pertama bertujuan memperbaiki dan membangun. Kritik destruktif adalah asal kritik,pokoknya kritik,dan kita tahu kalau destruktif sudah pasti merusak dan memusnahkan.
    Menurut saya ,sekali lagi menurut saya, kritik yang konstruktif itu sehat dan sah – sah saja dan disampaikan dengan santun.
    Kritik destruktif kiranya jangan dilakukan oleh orang – orang yang mengklaim dirinya berbudaya.
    Yang menurut saya “jangan pernah ada” adalah sinisme ,hujat dan gossip. Keempat hal terakhir lah yang kontraproduktif.
    Kritik tidak sama dengan pencemaran nama baik atau menjelek2kan orang!
    Kita memang jangan sampai menjadi tukang kritik, namun ketika kita mendapati suatu keadaan tidak sesuai dengan norma2 Ketuhanan,norma2 kehidupan dan norma2 yang baik ,kita wajib menyampaikannya.
    Ada sebuah cerita:
    Sang Guru dan Tukang Kritik
    Dalam komunitasnya Sang Guru selalu dikritik oleh seseorang yg selalu hadir di dalam pencerahannya.
    Berbulan2 , bertahun2…orang tersebut tidak pernah setuju dengan apa yg disampaikan Sang Guru.
    Selalu kritik.
    Murid2 Sang Guru sebenarnya geram dan marah,namun karena Sang Guru sepertinya tidak terusik dan diam serta tenang,maka murid2 tidak berani melakukan apa2 terhadap orang itu.
    Suatu ketika murid2 datang tergopoh mendapati Sang Guru membawa kabar gembira.
    “Guru Guru….kabar gembira Guru !Orang yg suka mengkritik kamu sudah meninggal!Syukurlah ……!”Murid2 sangat bersuka cita.
    Namun Sang Guru justru menangis …..
    Ooo….Tuhan….aku merasa kehilangan seorang sahabat yang selalu menunjukkan kepadaku kekuranganku …..!

    Well…sobat dan teman2…
    Walaupun mendapat kritikan destruktif sekalipun,”seandainya” kita “mampu” memiliki “hati” YESUS … kita sanggup mengubahkannya menjadi kebajikan.
    “Apabila” hati kita “berisi” iri,dengki,dendam dkk , pada saat kita “tidak menerima pujian” saja….kita sudah tidak bisa tahan…apalagi kritik…apapun jenisnya….no way !
    GBU ALL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s