Semua Impian Tentangmu

Impian terakhir akhirnya tertulis rapi sudah. Di sebuah kertas surat berbau harum. Lembaran kertas berwarna biru langit. Aku ingin melipatnya dengan rapi, seperti sebuah amplop.

Tujuh lembar kertas penuh dengan impian-impian tentangmu. Impian-impian yang mungkin hanya aku yang memilikinya. Hanya, kali ini aku tidak mengharapkan surat balasan darimu. Karena mungkin aku sudah mengetahui jawabannya, meskipun kamu tak pernah benar-benar mengatakannya secara gamblang.

Aku melipatnya satu-persatu sambil tersenyum. Sambil sesekali membacanya ulang. Memastikan tidak ada lagi impian yang salah tulis atau pun tertinggal.

Aneh rasanya jika mengingat selama tujuh tahun bersamamu hanya terangkum menjadi tujuh lembar kertas surat saja. Sebelumnya aku berpikir bakal lebih banyak dari tujuh lembar. Ternyata perkiraanku salah. Asumsi kita memang tidak selalu benar dan tidak dapat dipercaya sepenuhnya.

Setelah memastikan semuanya benar, aku melipatnya kembali dengan hati-hati.

Secangkir kopi mengepulkan asap tipis di sampingku. Berbagai macam buku berserakan di hadapanku. Mengenai buku kita mempunyai kebiasaan yang sama. Lebih senang membeli daripada membacanya. Meskipun ada beberapa buku favorit yang sudah kita baca hingga habis, tetap saja lebih banyak yang belum terbaca.

Kita juga punya pedapat yang sama. Bahwa buku adalah bagian dari keluarga, yang harus dirawat dan diperhatikan dengan baik. Aku ingat saat pertama kali menemukan pendapat itu, kita berdua sontak tertawa terbahak. Membuat seisi cafe menoleh. Kita tidak peduli. Aku ingat benar bagaimana lesung pipimu terangkat dan matamu berbinar. Kamu selalu tidak pernah gagal membuatku bahagia saat melihatmu tertawa lepas. Aku tidak pernah melupakannya.

Ketika sedang merapikan buku-buku yang berserakan, tak sengaja sikutku mengenai cangkir. Seketika luberan air kopi mengenai pucuk-pucuk kertas surat yang sudah terlipat rapi. Merembes ke hampir separuh bagian kertas. Segera aku tarik seluruh lipatan kertas surat itu. Mengipas-ngipaskannya. Berharap sisa-sisa air kopi tidak merembes ke seluruh bagian kertas. Aku sedikit panik. Mengambil beberapa lembar tisu. Membuka lagi lipatan-lipatan kertas surat yang sudah rapi itu, lalu mengelap lembaran-lembaran yang basah separuh.

Sebagian tinta birunya luntur. Untung masih bisa terbaca, meski tampak kabur. Aku berharap kamu tidak keberatan. Seperti setiap kali kamu selalu memaafkan keteledoranku. Aku mengelapnya hingga kering.

Semalam suntuk aku menuliskan semua impian itu dengan hati-hati. Melipatnya lagi satu-persatu. Sambil sesekali membacanya ulang.

Memastikan tidak ada lagi yang salah tulis atau pun tertinggal.

 

2 pemikiran pada “Semua Impian Tentangmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s