Cruel Intentions

Suatu sore di hari itu. Dari kejauhan tampak lampu kuning menyala. Billy menambah kecepatan mobilnya secara teratur, berharap masih keburu menyeberang. Dalam hitungan detik giliran lampu berwarna merah menyala. Secara reflek ia menginjak rem. Pelan-pelan menghentikan mobilnya. Tepat di batas garis sebelum zebra cross.

“Kamu terlalu lamban. Dari tadi kamu pelan banget nyetirnya,” kata sebuah suara wanita di sebelah kursinya. “Selalu ragu-ragu. Gak bisa tegas. Kebiasaan!”

Billy diam saja. Sambil melihat hitungan angka mundur di atas lampu lalu lintas yang menggantung di depannya.

“Di kota ini gak bisa terlalu lamban. Pasti diserobot orang lain. Kebiasaanmu gak berlaku di sini. Jangan terlalu sabar jadi orang!”

 

3,…2,… 1,…

Lampu hijau ganti menyala.

 

Billy menginjak pedal gas mobilnya. Sedikit menyentak, karena kaki kirinya kurang lembut melepas pedal kopling. Biasanya tidak seperti ini. Hanya kali ini saja.

“Nyetirmu kenapa sih? Lepas pedal koplingnya jangan terlalu cepat! Bisa rusak nanti giginya! Perawatan mobil ini mahal, tahu?”

Billy hanya diam saja. Badannya terasa lelah hari itu. Seharian ini, semua usulan proposal yang dia buat di kantor ditolak oleh atasannya sebelum diajukan ke klien. Yang diajukan malah usulan konsep yang sama dengan tahun kemarin. Lebih aman, katanya.

“Sebentar ya, aku baru masuk tol nih,” suara wanita di sebelah sedang berbicara ditelepon. “Iya, tadi Billy telat jemput. Sudah jadi kebiasaannya. Sudah berkali-kali aku ingetin tapi tetep gak mau denger. Kebiasaan!”

“Tadi macet,” Billy menjawab sendiri tanpa berharap didengar. Sambil mengambil uang sepuluh ribu untuk membayar uang tol.

“Yah, paling gak sampai tiga puluh menit lagi sampai. Kalo gak lelet sih nyetirnya. Biasalah. Pokoknya tunggu aku ya, jangan dimulai dulu acaranya. Aku pasti datang. Sudah on the way, darling.”

Billy, menginjak gas lagi. Kali ini ia memacu mobilnya lebih cepat.

“Eh, si itu jadi datang, kan?” kata wanita itu sambil membuka tas warna merah mudanya. “Dia boleh sih bawa teman, tapi pastikan temannya yang oke ya. Jangan yang kampung. Kurang intelek,” kali ini memindahkan telepon genggamnya ke tangan kiri.

Pandangannya beralih pada lelaki disebelahnya dengan ponsel yang masih tetap di telinganya

“Lebih cepat dong! Jangan di jalur kiri terus. Pindah ke kanan. Yang di kanan itu untuk para jagoan nyetir. Kamu bisa gak?” sahutnya sambil tetap menempelkan telepon genggamnya di telinga. “Salip!, salip!, salip! jangan di belakang truk. Mereka gak akan pernah bisa cepat! Lelet banget sih! Kebiasaan lamamu nih!”

Billy bergeming. Matanya tetap fokus ke depan. Kemudian menyalakan lampu tanda belok ke kanan. Setelah punya waktu yang tepat untuk menyalip. Ia menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil melaju dengan cepat.

Hampir sepanjang perjalanan si wanita ngobrol di telepon genggamnya. Mempersiapkan acara pentingnya.

“Salip dong! Salip!” suaranya lagi. Kali ini, tangan wanita itu sambil memegang cermin kecil yang ada di dalam kotak tempat bedak. Merapikan bulu mata palsunya. Tangan satunya masih menempel di telinga bersama telepon genggamnya.

“Trus, trus? Jadi gimana dong?” terdengar ia masih bercakap dengan seseorang di telepon. “Sebentar ya… Billy, ini kenapa berhenti? Kamu gak tahu ini sudah jam berapa? Aku sudah ditungguin banyak orang tau!”

“Gak berhenti, cuma merambat. Antri keluar tol,” Billy menjawab pelan. Mencari-cari kartu tol yang terselip.

 

“Trus, trus.. Kamu jadinya pake baju apa nanti? eh, Sebentar, jeung,…. Nah kan? Kartu tolnya hilang, kan? Kebiasaanmu itu, semuanya gak ditaruh di tempatnya. Gak mau tahu pokoknya harus kamu cari sendiri! Gini kan memperlambat semuanya. Ditungguin banyak mobil lagi di belakang….. Sorry, jeung. Sampai di mana tadi? Biasa, Billy selalu bikin sewot aja. Kebiasaan!”

Jalan menuju puncak lengang. Billy melajukan mobilnya dengan hati-hati. Karena jalanan naik, berkelok-kelok dan tanpa pagar pembatas di pinggir jalan, padahal berbatasan langsung dengan jurang. Telinga Billy terngiang-ngiang dengan ejekan atasannya atas ide proposalnya. Padahal ia berharap banyak proposalnya dapat diterima. “Terlalu nyentrik idemu. Terlalu Amerika! Orang Indonesia gak bakalan ngerti maksudnya. Makanya jangan baca novel aja kerjaannya, gak bakalan bikin cerdas!” Begitu kata atasannya.

“Billy, buruan! Tancap gasnya! Sebentar lagi lampunya kuning tuh! Cepat, cepat, cepat! Duuuhhhh…! Gak tahan deh kalo kamu kayak gini terus. Kebiasaan!” Suara dari sebelah itu lagi yang menghentikan lamunannya.

Billy menancap pedal gas. Karena jalannya naik, mobilnya tersentak saat ia mengganti gigi yang lebih rendah.

 

“Billy! Kamu kenapa sih kok nyetirnya gak bisa enak sih!” hardik wanita di sebelahnya, tangannya masih menggenggam telepon genggam yang menempel di telinganya.

 

Billy bergeming. Kakinya kanannya menekan pedal gas semakin dalam. Matanya tetap fokus di depan. Tangan kirinya memindahkan tuas ke gigi paling tinggi. Mobil melaju semakin lama semakin kencang. Jalanan kosong. Di depan terlihat rambu yang menandakan belokan tajam. ‘MOHON PELAN-PELAN. BERBAHAYA.’

“Billy, ini belokan berbahaya kamu harus lebih pelan. Di depan itu sudah jurang tahu! Kebiasaan nyetir ugal-ugalan ya!”

 

Billy tetap menancap gas. Berpura tak mendengar ocehan wanita di sebelahnya lagi.

“Billy! What are you doing? Billy! Rem, Billy! Billy! Kita bisa masuk jurang! Billyyyyy! Billy, remmm!!! Kamu sudah gila, Billy!! Billyyyyyy aku bisa matiii, Billy!!!”

 

Mobil melaju kencang. Menerobos tanpa ampun, merusak pagar pembatas kayu di pinggir jalan. Meluncur ke jurang. Melayang layaknya Superman. Mobil sedan warna putih yang baru seminggu mereka beli. Hadiah ulang tahun Billy untuk istrinya. Dia berharap bisa membuat hati istrinya senang dengan pemberian hadiah itu. Tujuh tahun adalah waktu yang tepat untuk memberinya kejutan.

“Sayang, kamu tidak lupa membawa dompetmu, kan?” Suara Billy bertanya dengan tenang dan penuh perhatian.

Istrinya di sebelahnya. Matanya membelalak. Mulutnya terbuka namun tidak mengeluarkan suara lagi seperti di sepanjang perjalanan tadi. Telepon genggam yang dari tadi menempel di telinganya kali ini terjatuh, lepas dari genggamannya.

“Halo… Halloo… ada apa, jeung? jeung? Halooo… Hallloo? Jeung, kamu gak papa, kan? Haloooo???”

5 pemikiran pada “Cruel Intentions

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s