Apa Yang Harus Diketahui Anakku Saat Ia Ingin Memulai Bisnis

Bagaimana jika suatu hari nanti anakku memberi tahu bahwa dia ingin membangun sebuah bisnis? Pertanyaan ini terpikir tadi pagi. Kira-kira aku harus memberitahukan hal apa saja untuknya?

Berdasarkan pengalamanku jatuh bangun dalam berbisnis, sangat tidak mungkin menuliskan semua hal yang harus ia pelajari. Namun, untuk tahap permulaan berbisnis, aku bisa merangkumnya lebih singkat. Ada 12 —aku suka angka dua belas—hal yang telah aku pikirkan untuk menjawab pertanyaan itu. Dan, Bisa saja berubah 12 tahun lagi, seiring dengan perkembangan jaman. Inilah rangkumannya:

– Mempunyai pengalaman Berdagang atau bekerja. Aku ingin anakku nanti tidak sekedar ingin terlihat keren dalam membuat bisnisnya. Bagiku membangun startup adalah hal yang serius. Tidak ada pelajaran yang lebih baik daripada mendapatkan pengalaman sendiri. Pengalaman berdagang (kecil-kecilan) atau bekerja untuk orang lain, dapat memberikan gambaran besar proses bisnis, bernegosiasi dan yang terpenting adalah belajar untuk melayani orang lain, selain dirinya sendiri. Melayani orang lain adalah faktor paling penting dalam berbisnis, jauh lebih penting daripada untuk mendapatkan keuntungan itu sendiri.

– Menabung untuk mengumpulkan modal.

Aku ingin anakku mendapatkan modal pertamanya hanya dari tabungan yang ia kumpulkan dari uang jajan atau dari hasilnya berdagang. Hal ini penting supaya ia dapat bertanggung jawab dengan uangnya sendiri saat memulai usahanya. Angka-angka yang tertera di dalam rekening, dan bagaimana ia mendapatkannya akan sangat mempengaruhi cara berpikir seseorang.

– Temukan passion. 

Aku ingin sebelum ia membangun bisnis, ia sudah harus bisa menemukan passionnya, dan menceritakannya kepadaku dengan antusias. Aku tidak ingin ia mengubah dunia dengan cara yang tidak disukainya. Hanya karena mengejar pujian orang lain agar terlihat keren atau hebat. Apalagi hanya karena untuk mendapatkan uang.

– Temukan Rekan Kerja Yang Tepat.

Aku sangat percaya, membangun bisnis berdua lebih baik daripada jomblo, eh, maksudnya daripada sendirian. Menemukan pasangan yang tepat sama seperti memilih jodoh dalam pernikahan. Pasangan yang tepat membuat segala hambatan yang menghadang mampu dilalui dengan lebih ringan. Memilih rekan kerja yang tepat membutuhkan pengenalan diri sendiri terlebih dahulu, tanpa ini kita akan mendapatkan pasangan yang salah. Jika ia mengetahui kelebihan dan kekurangan diri kita dengan baik, aku yakin kita akan mampu memilih pasangan yang saling melengkapi. Mengapa aku ingin ia mempunyai partner? Karena berjalan bersama-sama lebih mampu menempuh jarak lebih jauh daripada berjalan sendirian, meski kadang lebih lambat.

– Tidak Menerima Investasi Terlalu Dini.

Bukan aku tidak setuju untuk ia menerima investasi dari luar. Aku sangat setuju sebuah bisnis menerima investasi modal dari pihak lain untuk mengembangkan daya jangkauan bisnisnya lebih luas. Namun, untuk fase terlalu awal, menurutku tidak baik bagi mental seseorang yang baru pertama kali membangun bisnis. Mungkin membutuhkan waktu baginya antara 3 hingga 5 tahun untuk menerima investasi dari pihak luar, atau dari aku sebagai ayahnya—tentu saja. Tahun-tahun awal membangun sebuah bisnis adalah fase yang harus dilalui oleh siapa pun, yang ingin membangun bisnisnya dari nol. Untuk menguatkan karakternya sebagai seorang entrepreneur. Masa itu adalah ujian terberat yang mampu menguji dan mengeluarkan karakter-karakter yang sebenarnya.

– Keberanian Berkata Tidak.

Di masa awal, akan ada banyak tantangan. Baik tantangan dari dalam atau pun dari luar. Dari dalam, adalah godaan untuk menyerah ketika menghadapi masalah. Sebesar apa pun masalahnya. Harus berani menghadapinya dan menyelesaikannya secepat mungkin. Dari luar, tantangan untuk melihat rumput tetangga yang lebih hijau selalu membayangi. Banyak hal yang terlihat lebih menjanjikan untuk dikerjakan, padahal hal tersebut tidak sesuai dengan passion dan kekuatan yang dimiliki.

– Memiliki Kerendahan hati. 

Aku ingin anakku mempunyai kerendahan hati dalam membangun bisnisnya. Ciri terpenting yang harus ditunjukkannya adalah dengan lebih banyak mendengar. Di dalam mendengar kita berusaha melihat perspektif dari sudut pandang orang lain.

Hebatnya, seperti yang sering aku alami, di dalam banyak mendengar kita lebih peka melihat kesempatan tersembunyi. Kenapa? Karena pikiran kita menjadi lebih terbuka dalam melihat suatu permasalahan. Pikiran kita menjadi lebih kaya. Semakin kita banyak mendengar, kita akan semakin diasah kemampuannya untuk membedakan nasihat yang sesuai dengan kebutuhan kita atau tidak.

– Tidak Terlalu Banyak Membaca Buku.

Meskipun sebagai pecinta buku, aku harus mengatakan ini kepada anakku. Karena aku percaya terlalu membaca banyak buku bisa membuat kita tersesat. Namun, membaca buku yang tepat dapat mengantarkan dan memberi panduan kita menuju ke ‘jalan yang benar’. Aku akan memilih maksimal sebanyak 3 buku saja sebagai pandauannya dalam memulai usahanya. Tidak lebih dari itu. Atau ia akan tersesat dengan berbagai macam teori yang membingungkan dan hanya akan menambahkan keraguan. Di masa itu yang ia butuhkan adalah keberanian, bukan teori yang memberitahukan jalan alternatif untuk mendapatkan keberanian.

– Mencari Mentor Yang Tepat.

Jika nanti ia mampu mendapatkan mentor yang pandai, itu adalah sesuatu hal yang baik bagi dirinya. Namun, jika ia mendapatkan mentor yang mampu memberi teladan itu sebuah keberuntungan. Aku berharap ia akan mendapatkan keduanya. Seorang mentor bagaikan penasehat dalam menghadapi peperangan. Semakin baik nasehat yang diterima, ia sudah memenangkan separuh peperangan.

– Memiliki Rencana dan Keyakinan.

Memiliki rencana dan keyakinan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Jika ia mempunyai rencana yang hebat, keyakinan akan semakin kuat. Jika tidak ada rencana, keyakinan semikin rapuh. Bentuk rencana, tidak harus lengkap seperti sebuah proposal bisnis minyak. Minimal ia bisa menceritakan rencana yang akan dilakukan ke dalam enam halaman kertas ukuran A4. Berpikir yang paling baik adalah di atas kertas.

– Memiliki Keberanian Menghadapi Kemungkinan Terburuk.

Paulo Coelho pernah menulis ini, “Satu-satunya hal yang membuat sebuah impian tidak mungkin terwujud adalah ketakutan mengalami kegagalan.” Aku harap anakku nanti benar-benar menghayati pernyataan itu. Tidak hanya sekedar mengcopy-paste kata-katanya lalu mem-postingn di Twitter dan Facebook agar terlihat gaul. Tanpa mempunyai keberanian untuk gagal dan menghadapi segala hal yang terburuk. Yang harus aku pastikan kepadanya hanya satu, bahwa jika ia mengalami hal terburuk sekalipun aku ingin ia tetap ingat bahwa aku, ayahnya, tetap mencintainya.

– Fokus.

Kemampuan manusia untuk memfokuskan pikiran semakin mendapatkan ujian sejak adanya televisi, kemudian disusul dengan adanya internet. Kemampuan untuk tetap fokus, mencurahkan segala pikiran dan daya upaya untuk membangun sebuah bisnis menjadi salah satu yang kunci yang membedakan sebuah bisnis akan berhasil atau tidak. Aku ingin anakku nanti mempunyai fokus dalam membangun bisnisnya, supaya ia dapat memulainya dengan segera. Sebelum ia diganggu dengan urusan cintanya —yang seringkali menyita perhatian lebih.

Diantara kedua belas faktor di atas yang terakhir dan paling terutama adalah doa dan selalu memohon bimbingan dari Tuhan, Sang pemberi jalan dan hidup agar apapun langkah yang kita ambil sesuai dengan kehendakNya.

Akhirnya selesai juga menulis ini. Semoga aku tidak dianggap sebagai ayah yang otoriter. Aku hanyalah seorang ayah yang ingin anaknya mempunyai hidup yang dapat ia nikmati sepenuhnya, sesuai yang ia inginkan. Mungkin aku harus menunggu sekitar 10 tahun lagi untuk mengatakan ini kepada dua anak lelakiku, karena sekarang keduanya masih berumur 5 tahun, dan yang paling kecil berumur 9 bulan.

3 pemikiran pada “Apa Yang Harus Diketahui Anakku Saat Ia Ingin Memulai Bisnis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s