5 Alasan Mengapa Impian Kita Belum Terwujud.

Mengenali hal-hal yang memerangkap impian kita— dan mengatasinya!

Sejujurnya, sebagian besar orang tidak pernah melihat impiannya terwujud selama hidupnya. Bukannya melonjak menembus awan, impian kita merana seperti pesawat rusak yang terpenjara di hanggar.

Selama perjalanan hidup ini, saya mencoba menjelaskan 5 alasan mengapa impian-impian kita belum terwujud:

1. Kita tidak punya nyali untuk bermimpi karena omongan orang lain.

Kita harus menjadi penuntun atas impian kita sendiri. Kita tidak boleh membiarkan orang lain menuntun impian kita. Biasanya, orang-orang yang tidak mengikuti impiannya tidak senang melihat kita yang sedang mengejar impian kita. Beberapa orang akan merasa tak berdaya terhadap dirinya sendiri ketika melihat kita berhasil, sehingga mereka mencoba untuk menyeret kita turun—agar sama seperti mereka.

Saat kita mendengarkan suara-suara dari luar diri sendiri, sebenarnya kita membiarkan impian kita dibajak. Pada titik tertentu, orang lain akan mencoba memberi batasan terhadap kemampuan kita dengan meragukannya.

Saat kita dikelilingi oleh kritik, kita harus menyadari bahwa jangan sampai hal tersebut membuat kita terjatuh lalu menyerah dalam menghadapi proses ini.

2. Kita terjebak dalam kebiasaan menetapkan hasil yang rata-rata.

Entah mengapa, menetapkan hasil rata-rata sudah menjadi standar kebiasaan. Dibutuhkan usaha ekstra, inspirasi berkepanjangan dan disiplin yang tinggi ketika kita mengharapkan hasil di atas rata-rata. Saat kita mencoba menaikkan pesawat impian, kita harus mampu mengatasi beban yang menghambatnya. Seperti gravitasi, masalah-masalah kehidupan terus-menerus menarik, berusaha membawa kita untuk menjadi manusia rata-rata.

Sebagian besar dari kita tidak mau membayar harga untuk mengatasi beban yang menghambat impian kita.

Awalnya kita mulai terinspirasi, namun seiring waktu kita mulai kelelahan. Meskipun tidak pernah berniat untuk meninggalkan impian kita, kita mulai membuat kelonggaran di sana-sini. Waktu pun terus berlalu, hidup kita menjadi biasa, dan impian kita menyelinap pergi.

3. Kita terhalang oleh kekecewaan masa lalu yang menyakitkan.

Dalam film Top Gun, Tom Cruise berperan sebagai Maverick, seorang penerbang muda, berbakat dan percaya diri yang bercita-cita menjadi pilot utama di Angkatan Laut AS. Di pembukaan film, Maverick menunjukkan bakat dan keahliannya terbangnya yang bisa mempertaruhkan keselamatannya. Di pertengahan film, keagresifan Maverick menimbulkan bencana. Pesawat mengalami musibah, membunuh sahabatnya.

Meskipun dinyatakan tidak bersalah atas kejadian tersebut, insiden tersebut menghantui ingatan Maverick. Ia mulai berhenti mengambil risiko dan kehilangan kepercayaan dirinya.

Saat berjuang mendapat kembali kepercayaan dirinya, ia mulai memikirkan untuk melepaskan impiannya. Bahkan insiden ini hampir menenggelamkan karir Maverick, namun ia akhirnya berhasil menemukan kembali kekuatan untuk terbang, memperjuangkan impiannya.

Sama seperti Maverick, banyak dari kita hidup dengan memori kegagalan yang tertanam dalam jiwa kita, dalam pikiran kita. Mungkin itu adalah kebangkrutan bisnis yang kita mulai dari awal, atau dipecat dari jabatan pekerjaan atau hal lainnya yang sangat mengecewakan.

Kekecewaan adalah kesenjangan yang terletak di antara harapan dan kenyataan, dan kita semua pernah mengalami kesenjangan tersebut.

Kegagalan adalah bagian penting dan alami dari kehidupan, tetapi jika kita ingin mewujudkan impian kita, maka, seperti Maverick, kita harus mengumpulkan keberanian untuk menghadapi kekecewaan masa lalu yang menyakitkan.

4. Kurangnya kepercayaan diri untuk mengejar impian kita.

Dreams are fragile. Impian kita sangat getas, mudah runtuh. Impian kita akan diserang dari semua sisi. Karena itu, impian tersebut harus dipasok dengan kekuatan ekstra dari kepercayaan diri.

Di masa Amelia Earhart, seorang wanita tidak seharusnya menerbangkan pesawat. Jika ia tidak memiliki keyakinan diri, ia takkan pernah mencoba menjadi pilot. Sebaliknya, Earhart percaya diri mengejar mimpinya, untuk usahanya tersebut ia mendapatkan pemenuhan diri serta ketenaran.

5. Kita kehilangan imajinasi untuk bermimpi.

Selama ribuan tahun, manusia bepergian di daratan: dengan berjalan kaki, dengan kuda-dan kereta, dengan lokomotif dan akhirnya oleh mobil. Berkat imajinasi Orville dan Wilbur Wright, kita sekarang lompat melintasi lautan hanya dalam hitungan jam. Dua bersaudaran yang imajinatif itu telah mengatasi ejekan dan keraguan untuk merintis penerbangan manusia, dan dunia tidak pernah sama lagi oleh karena alat ciptaan mereka. Pesawat terbang.

Kita sering mengecilkan diri hanya karena tidak pernah membiarkan diri untuk bermimpi. Kita terperangkap oleh realitas sehari-hari dan tidak pernah berani melampaui apa yang bisa kita lihat dengan mata. Imajinasi dapat mengangkat kita melampaui rata-rata dengan memberikan visi hidup yang melebihi apa yang sedang kita alami saat ini.

Impian menyuntik jiwa dengan energi serta memacu jiwa untuk meraih keagungan.

Jangan pernah berhenti bermimpi!

—Oleh John C. Maxwell.

5 pemikiran pada “5 Alasan Mengapa Impian Kita Belum Terwujud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s